Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Sabtu, 11 Januari 2014

PENGENALAN MESIN PENGGERAK KAPAL


mesin penggerak kapal merupakan suatu alat atau mesin yang digunakan sebagai motor penggerak kapal sehingga kapal dapat bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain. horee...akhirnya saya bisa buat postingan baru lagi, selama ini fokus ngerjain skripsi tapi sekarang alhamdulillah udah kelar (akhirnya masa studi 6 tahun berakhir,hehehe...).oke lanjut deh tentang mesin penggerak kapal, dalam sejarah perkembangan mesin penggerak kapal terdapat beberapa tipe yang mendominasi hingga kurun waktu tertentu, adalah sebagai berikut :
1. Reciprocating Steam Engine
mendominasi dunia ship propulsion (sistem penggerak kapal) hingga sekitar tahun 1910-an. Keunggulannya adalah terletak pada pengaturan beban, khususnya untuk arah reversed (arah mundur) yang mana Reciprocating Steam Engine memberikan kemudahan serta lebih efisien pada range kecepatan rotasi tertentu agar match dengan kinerja screw propeller. Kelemahannya Reciprocating Steam Engine adalah pada instalasinya yang relatif berat, kebutuhan space yang besar, output power per cylinder-nya masih sangat terbatas. Selain itu, Steam tidak dapat bekerja secara efektif pada tekanan relatif rendah. Serta kebutuhan fuel consumption yang tinggi, sebagai gambaran bahwa untuk triple-expansion engine maka memerlukan superheated steam yang mengkonsumsi bahan bakar (oil) hingga ± 0.70 kg per kWh.
gambar steam engine mesin penggerak kapal
gambar steam engine
 gambar steam engine 

 gambar steam engine 2
2. Marine (Steam) Turbines
mesin penggerak kapal yang pertama diinstal oleh Sir Charles Parsons ke kapal Turbinia pada tahun 1894, dengan kecepatan mencapai 34 knots.Kemudian turbines mengalami kemajuan pesat hingga pada tahun 1906, yang mana diaplikasikan sebagai tenaga penggerak untuk kapal perang HMS. Dreadnought dan kapal Atlantic Liner – Mauretania. Kebutuhan bahan bakar (fuel consumption) secara rata-rata untuk suatu Large Turbine adalah 0.30 kg per kWh. Namun demikian, keunggulan segi ekonomis tersebut mengalami suatu tantangan dari sisi Non-reversible dan Rotational Speed, yang mana memerlukan pertimbangan teknis lebih lanjut. Untuk kepentingan reverse diperlukan adanya reversing turbines yang secara terpisah diinstal ke sistem. Sementara itu untuk mengatasi rotational speed-nya yang relatif tinggi, maka diperlukan adanya mechanical geared untuk menurunkan putaran output turbines khususnya untuk alat gerak kapal berjenis screw propeller, sehingga hal itu menyebabkan terjadinya power loss berkisar 2 hingga 4 persen. Penurunan putaran turbines (rpm) ke propeller shaft (poros propeller), dapat juga diatasi dengan merancang electric driven, yaitu dengan meng-couple secara langsung antara turbine dengan generator yang mana keduanya sama-sama memiliki operasional yang lebih efisien bila dalam kondisi putaran tinggi.
ini dia gambar marine (steam) engine.
gambar marine (steam) turbines 

Kemudian, generator men-supply listrik ke electric motor yang dihubungkan dengan poros propeller. Hal ini memberikan kelonggaran pada masalah lay-out engine room yang mana pengaruh hubungan poros secara langsung dari turbine ke propulsor dapat dieleminasi. Turbo-electric Drive juga memberikan keuntungan terhadap pengurangan untuk reversed gear mechanism serta fleksibilitas dalam operasinya. Namun demikian, power loss akibat transmisi tenaga serta investment perlu dipertimbangkan.
3. Internal Combustion Engines (diesel engine)
mesin penggerak kapal yang digunakan dalam propulsi kapal, pada umumnya adalah Reciprocating engines yang beroperasi dengan prinsip-prinsip diesel (compression ignation) yang mana kemudian dikenal dengan nama Diesel Engines. Berbagai ukuran untuk Diesel Engines ini kemudian dibuat, mulai dari kebutuhan untuk pleasure boats hingga ke modern supertankers dan passenger liners. Engine ini dapat dikembangkan hingga memberikan lebih dari 2500 kW per cylinder, maka output power bisa mencapai 30,000 kW untuk 12 cylinders (40,200 HP). Torsi yang diproduksi oleh Diesel Engine, adalah dibatasi oleh maximum pressure dari masing-masing silinder-nya. Sehingga, ketika engine memproduksi maximum torque, maka artinya, maximum power hanya dapat dicapai pada kondisi maximum RPM. Diesel Engine secara konsekuensi, mungkin memproduksi power sedemikian hingga proporsional dengan RPM untuk masing-masing throttle setting-nya. Pembatasan ini kemudian menyebabkan masalah tersendiri didalam melakukan matching antara Diesel Engine dan Propeller.
contoh gambar diesel engine kapal ukuran kecil
gambar diesel engine kapal 

4. Gas Turbine
mesin penggerak kapal ini juga telah dikembangkan dalam dunia ship propulsion yangmana bahan bakar (fuel) dibakar melalui proses udara yang dikompresikan, dan gas panas hasil pembakaran tersebut digunakan untuk memutar turbine.Gas turbine umumnya diaplikasikan pada dunia kedirgantaraan, dan perkembangannya sangat tergantung pada teknologi metal yang mampu menahan terhadap tekanan dan temperatur yang tinggi. Keunggulan dari gas turbine ini terletak pada ukuran dan kapasitas power yang dihasilkan dibandingkan dengan tenaga penggerak lainnya. 
contoh gambar gas turbin kapal ukuran kecil 
gambar gas turbin kapal 
Selain itu, kesiapannya untuk beroperasi pada kondisi full load sangat cepat, yaitu berkisar 15 menit untuk warming-up period. Marine Gas Turbine sangat jarang dijumpai pada kapal-kapal niaga, hal ini disebabkan karena operasi dan investasinya yang relatif mahal. Sehingga paling banyak dijumpai pada kapal-kapal perang jenis, frigates; destroyers; patrol crafts; dsb. Instalasinya pun kadang merupakan kombinasi dengan tipe permesinan yang lainnya, yakni : Diesel engines.
Beragam macam dari tipe marine engines, tidak semuanya di-rate pada basis yang sama. Sebagai misal,  Steam Reciprocating Engines selalu di-rate dalam bentuk Indicated Power (PI ); Internal Combustion Engines dalam bentuk Indicated Power, atau juga, Brake Power (PB ); dan Turbine dalam bentuk Shaft Power (PS ). Bentuk Horse Power masih tetap digunakan sampai saat ini, dimana untuk 1 HP = 0.7457 kW, sedangkan dalam English units 1 HP = 550 ft-lb per sec. Indicated Power diukur di dalam cylinders, yang artinya, ada suatu instruments yang bertugas merekam secara kontinu tekanan uap atau gas.

Marine Fuel Management – Pengelolaan Bahan Bakar di Kapal, untuk selanjutnya disebut MFM kependekan dari Marine Fuel

Management adalah suatu pendekatan secara bertingkat atau multi-level untuk pengukuran, pemantauan, dan pelaporan penggunaan bahan-bakar di kapal, dengan sasaran pencapaian pengurangan penggunaan bahan-bakar, peningkatan efisiensi operasional, dan perbaikan pengawasan manajemen armada. MFM telah berkembang dan menjadi begitu penting akibat kenaikan biaya bahan-bakar kapal dan meningkatnya tekanan-tekanan dari pemerintah untuk mengurangi pencemaran yang ditimbulkan oleh armada kapal diseluruh dunia.
MFM yang efektif mensyaratkan agar Anda memahami:
  • Seberapa banyak bahan-bakar yang digunakan
  • Bagaimana bahan-bakar digunakan
  • Apa saja yang memengaruhi penggunaan bahanbakar
  • Dan seberapa besar Cara atau metode pengukuran bahan-bakar secara manual, seperti misalnya pengukuran kedalaman/tinggi permukaan (dipping atau sounding), umumnya tidak mampu memberitahukan seberapa banyak bahan-bakar yang digunakan:
    • Untuk kapal yang sedang berlayar terhadap kapal yang sedang berada di pelabuhan atau sedang tidak berlayar
    • Untuk suatu mesin tertentu (misalnya mesin induk kiri terhadap mesin induk kanan)
    • Kinerja salah satu tugas pekerjaan terhadap tugas pekerjaan lainnya
    • Dilakukan oleh kru A terhadap yang dilakukan oleh kru B
Tanpa pengertian yang jelas bagaimana cara bahanbakar digunakan, tidak ada dasar kerja untuk membandingkan setiap jenis alat atau kegiatan apapun dalam melakukan penghematan bahanbakar. Tanpa dasar kerja, tidak akan ada cara untuk menetapkan apakah kiat-kiat untuk penghematan telah betul-betul bekerja. MFM memungkinkan pemilik/pengelola armada kapal untuk melacak pemakaian/konsumsi bahan bakar dan mengaitkannya dengan kinerja yang dihasilkan oleh kapal itu. MFM mendukung analisis efektivitas dari kiat-kiat operasi dan membantu mengembangkan suatu pemahaman yang lebih jelas tentang seberapa baik/efisien suatu kapal menggunakan bahan-bakarnya.
Wilayah-wilayah Fungsional Utama dari MFM
  • Kinerja Operasional
  • Manajemen Perawatan dan Engineering
  • Manajemen Pengawasan
Kinerja Operasional
Kinerja operasional meliputi wilayah-wilayah fungsional yang memengaruhi kinerja sesungguhnya dari suatu kapal atau armada. Kinerja operasional ini juga meliputi pemantauan, pengawasan jumlah, penghitungan bahan-bakar dan manajemen pencekikan (throttle) bahan bakar ke mesin.
Pemantauan Bahan-bakar
Banyak kapal-kapal laut yang tidak dilengkapi dengan suatu peralatan agar Nakhoda dan awak kapal mampu mengukur dan memantau penggunaan bahan-bakar saat kapalnya berlayar. Suatu sistem yang optimum di kapal harus termasuk kemampuan untuk setiap saat bisa memantau tingkat penggunaan bahan-bakar yang dibakar dari anjungan kapal. Termasuk kecepatan (penggunaan) bahan-bakar yangdibakar di masing-masing mesin-induk atau mesin-mesin bantu, sekaligus tinggi permukaan bahan bakar dalam tangki-tangki. Pemantauan yang proaktif ini akan memungkinkan awak kapal untuk membuat keputusan-keputusan yang secara positif memengaruhi tingkat dan efisiensi (penggunaan) bahan bakar.
Pengontrolan Jumlah Bahan-bakar yang Tersisa (Inventory)
Tangki-tangki bahan-bakar perlu dipasangi sensor-sensor yang memantau tinggi permukaan bahan bakar secara terus menerus karena adanya penerimaan bahan bakar di kapal dan sebagian dibakar didalam mesin induk dan mesin-mesin bantu. Dengan mempertimbangkan jumlah bahan bakar yang dikonsumsi mesin-mesin modern, pengukuran tinggi permukaan bahan-bakar secara berkala dalam tangki-tangki dengan cara-cara manual/tradisional, sudah tidak teliti dan menyita waktu. Flowmeter-flowmeter harus dipasang pada saluran-saluran pipa transfer bahan-bakar di tempat-tempat dimana bahan-bakar diambil atau disalurkan keluar kapal.
 Penghitungan Penggunaan Bahan-bakar (Accounting)
 Di sejumlah tempat di dunia, pencurian bahan bakar merupakan kenyataan yang perlu diperhatikan,.Karena itu akurasi/ketelitian pengukuran bahan bakar yang diterima serta jumlah bahan-bakar yang betul-betul digunakan di kapal, merupakan bagian yang penting dalam MFM. Flowmeter-flowmeter harus dipasang pada saluran-saluran pipa transfer bahan bakar sehingga data penggunaan bahan bakar (fueling) bisa dicatat. Data ini selanjutnya bisa dibandingkan dengan dengan jumlah bahan bakar yang dibakar (burn rates) untuk menetapkan apakah ada bahan-bakar yang ditransfer keluar kapal secara sembunyi-sembunyi.
Diluar pencurian bahan-bakar, banyak ketentuanketentuan hukum dari negara yang mensyaratkan agar semua insiden tumpahan bahan bakar dari kapal dicatat dan dilaporkan kepada otoritas-otoritas setempat. Sebagai contoh, Marine Department dari Pemerintah Hong Kong memiliki panduan-panduan khusus untuk menaggulangi kecelakaan-kecelakaan tumpahan bahan-bakar yang mencerminkan ketentuan-ketentuan internasional yang tercantum dalam MARPOL, Konvensi Internasional untuk Pencegahan Pencemaran dari Kapal-kapal.
Selain itu, penghitungan penggunaan bahan-bakar di beberapa tempat selama suatu pelayaran memberikan kemampuan untuk mengaitkan (pemakaian) bahan-bakar serta biaya-biaya yang bersangkutan dengan tarif-tarif pengapalan atau pengangkutan peti kemas. Sebagai contoh, pemahaman tentang bagaimana kapal membakar bahan-bakar pada bagian-bagian tertentu dari suatu pelayaran, memungkinkan penawaran tarif-tarif sewa peti kemas lebih akurat lagi sehingga marjin keuntungan masih tetap sehat. Sebagai konsekuensinya, berbagai tarif pengapalan berdasarkan pada tarif-tarif penggunaan bahanbakar yang terdokumentasi bisa memungkinkan suatu perusahaan pengapalan barang (shipper) menawarkan tarif pengapalan lebih murah lagi.
Suatu sistem manajemen bahan-bakar kapal (MFM) yang moderen, akan membantu dalam pemantauan penggunaan bahan-bakar, transfer-transfer bahanbakar, dan kegiatan-kegiatan penerimaan bunker bahan bakar dan bisa diatur untuk bisa mengaktifkan alarm suara (audible) pada saat akan terjadi tumpahan dari tangki-tangki bahan-bakar yang sedang diisi.
Manajemen Pencekikan (Throttle)
Para operator kapal adalah pihak yang memerlukan tentang pemakaian bahan-bakar dengan cara mencekik (throttle). Penggunaannya, angin, arus laut, kondisi (kebersihan) lambung kapal (bawah air), berat muatan, dan kehandalan sistem penggerak kapal kesemuanya bisa berdampak pada jumlah bahan bakar yang dibakar baik yang positif maupun yang negatif. Dalam upayanya untuk mengurangi penggunaan bahan-bakar, sejumlah operator kapal memilih untuk menurunkan RPM dari mesin induk, yang dengan sendirinya juga menurunkan kecepatan kapal. Akan tetap, hanya dengan menurunkan RPM/kecepatan kapal belum mengindikasikan konsumsi bahan-bakar total , sehingga keputusan untukmenurunkan putaran mesin induk tidaklah menjamin terjadinya penghematan-penghematan bahan-bakar. Seseorang harus melakukan penghitungan-penghitungan aliran-kerja (workflow) tentang bagaimana sistem propulsi itu beroperasi berjalan didalam kondisi-kondisi tersedia yang berubah-ubah dan selanjutnya mengaitkannya itu dengan konsumsi bahan-bakar. Hanya dengan menurunkan putaran mesin induk tidak menjamin setting kecepatan kapal yang optimum.
Sejumlah sistem MFM yang moderen dirancang untuk melakukan penghitungan-penghitungan selagi kapal sedang berlayar dan membuat rekomendasi-rekomendasi kepada Nakhoda kapal.
Manajemen Rekayasa (Engineering) dan Perawatan
Sebagaimana dengan setiap aset modal, pabrik-pabrik biasanya mengikutsertakan praktek-praktek dan prosedur-prosedur perawatan standar yang diperlukan untuk mempertahankan agar aset tetap berfungsi dengan benar dan masih dalam spesifikasi rancangan/desain aslinya. Dalam sejumlah kasus, perawatan-perawatan rutin yang terjadwal didasarkan pada parameter-parameter laboratorium dan rancangan aslinya dan tidak selalu merefleksikan sesuatu yang optimal.
MFM mendukung perawatan yang benar atas mesin-mesin induk dan mesin-mesin bantu di kapal dengan menggunakan jumlah bahan bakar sesungguhnya yang dibakar atau jumlah jam kerjanya sebagai dasar untuk melakukan perawatan-perawatan rutin. Program perawatan berdasarkan kondisi (condition-based) lebih merefleksikan secara akurat kondisi lingkungan operasi yang sesungguhnya dari mesin-mesin itu, namun yang lebih penting lagi adalah mengurangi atau meniadakan kerja perawatan yang memang tidak diperlukan.
Manajemen Pengawasan
Fungsi-fungsi manajemen dalam MFM meliputi:
Analisis kinerja kapal dan kinerja armada secara keseluruhan
Analisis awak kapal dengan penekanan pada penerapan pelajaran-pelajaran yang didapat dari
pengalaman-pengalaman penerapan kerja yang terbaik diseluruh armada
Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicator–KPI) yang dikumpulkan dari seluruh armada meliputi bahan-bakar yang dibakar per mil laut atau ton, setting throttle pada beberapa titik/tempat dalam suatu pelayaran, analisis RPM dan gas buang dari mesin; dan kinerja kapal terhadap kondisi-kondisi (kebersihan) lambung kapal.
Manajemen bahan-bakar dari pembelian sampai transfer ke penggunaan.
Kinerja bahan-bakar kapal yang dicarter dan pemenuhannya pada kewajiban-kewajiban yang tertulis dalam kontrak/perjanjian.

MESIN DIESEL KAPAL


Mesin Diesel kapal ( Marine engine ) mempunyai perbedaan dengan Mesin Diesel yang dipakai didaratan ( konvensional ). Kenapa untuk melayani operasional, perawatan dan perbaikan - perbaikan kecil mesin - mesin diesel kapal, para masinisnya (Engineer), ada yang setingkat D3 ( ATT III ), S1 ( ATT II ), bahkan ada yang setara dengan S2 ( ATT I / M,Mar Eng ). Sementara mesin - mesin diesel di daratan cukup dilayani oleh tamatan SMK s/d D3 mesin saja.
Prinsip kerja mesin diesel baik di darat maupun di kapal - kapal sama saja, tak ada perbedaan yang signifcan. Sedangkan letak perbedaannya, antara lain ada pada :

I. Material mesin diesel kapal

Material mesin diesel kapal ( Marine engine ) dibuat lebih tangguh dari pada mesin - mesin yang ada didarat, agar tidak mudah mengalami kerusakan / keropos bila bersinggungan dengan air laut yang mempunyai kadar garam sangat tinggi dan mengandung unsur - unsur mineral dan biota laut perusak lainnya. Untuk mengantisipasi terjadinya hal - hal yang demikian, maka di lakukan tindakan - tindakan pada mesin diesel kapal sebagai berikut :
Melakukan pengecatan " Anti Faulant ", memasang Zink Anode pada sea chest air laut masuk dan pada cooler-cooler mesin diesel kapal untuk mencegah pengkeroposan material.
Memasang system dosis Alkytrimethylene Diamenes, suatu cairan Anti faulant Marine Chemical Corrosive Liquid Basic Organic, sebelum pendistribusian air laut dari sea chest kepemakaian Sedangkan mesin diesel di darat tidak pernah mengalami hal - hal seperti ini.
II. Operasional mesin diesel kapal

Selama pengoperasiannya ( Engine running ), mesin diesel darat hanya mendapat getaran dari mesin itu sendiri ( internal vibration ), tidak pernah menerima getaran dari luar ( external vibration ), kecuali bila terjadi gempa bumi. Tidak demikian halnya dengan Marine engine, selain mendapat getaran mesin itu sendiri, mesin - mesin diesel kapal juga mendapatkan getaran perlawanan dari luar, karena guncangan dari badan kapal yang diterpa ombak laut. Terjangan ombak yang begitu dahsyat terhadap badan kapal bisa membuat mesin mengalami kemiringan sampai sekitar 60 derajat. Bila hal ini terjadi bisa mengakibatkan mesin mengalami, sebagai berikut:
Tekanan lubricating oil akan mengalami kekosongan ( hampa ), bila hal ini terjadi, maka tekanan lub. oil akan menurun ( lubricating oil low pressure ), mesin akan mati secara mendadak ( Shutdown immediately ), atau mesin mengalami rusak berat ( break down ). Untuk mengantisipasi terjadinya hal - hal seperti ini, maka pada saat rancang bangun, marine engine dipasang dua buah pipa isap lubricating oil kapal didepan dan dibelakang agak kekanan, atau kekiri lub oil carter engine. Sehingga bila mesin kapal mengalami kemiringan kearah manapun dan berapa derajatpun, lubricating oil tetap akan terisap oleh pompa minyak lumas.Sedangkan pada mesin - mesin darat pipa isap minyak lumas cukup satu saja.
Buritan kapal terangkat, sehingga baling-baling terbebas dari tekanan air laut, secara logika akan terjadi putaran lebih ( over speed ) pada mesin induk kapal, atau bisa juga terjadi kerusakan yang fatal ( break down ). Tetapi hal sudah diantisipasi oleh perancang Marine engine dengan memasang pengaman pada Governoor, agar putaran mesin tetap menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat itu. Alat pengaman ini dikenal dengan nama " Over Speed Trip ". Pada mesin - mesin darat tidak dilengkapi dengan peralatan ini.
III. Penempatan dan penataan mesin kapal ( Arrange & install )

Pemasangan dan penataan pada mesin-mesin di darat sangat simpel dan sederhana. Buat pondasi mesin yang kokoh, rata, pasang engine mounting untuk perendam getar, bila mesin beroperasi. Install, cooling system, exhause gas system, On / Off system, memakai angin penjalan atau battery. Allignment dengan kebutuhan pemakaian, apakah untuk pembangkit atau lainnya, selesai sudah. Pada saat pembangunan kapal, yang paling sulit dan penuh kehati-hatian adalah pembuatan pondasi mesin kapal, terutama mesin induk kapal, tidak cukup dengan rata saja, tetapi harus memperhitung semua yang berkaitan dengan mesin kapal tersebut. Harus memperhitungkan titik berat kapal, kelurusan dengan gear box, propulsion, momen - momen yang kemungkinan akan terjadi saat kapal telah beroperasi, dan pengendalian mesin kapal untuk kebutuhan manouvering. Apalagi, bila kapal tersebut memakai dua mesin ( twin engine ).
Ini semua belum termasuk, pengoperasian, perawatan dan perbaikan, bila kapal telah dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Jadi, wajarlah bila engineer - engineer kapal ada yang setara dengan S2 jenis mesin yang ada di kapal.

Agar kapal dapat bergerak dan berlayar diperlukan tenaga penggerak kapal. Berbagai bentuk tenaga penggerak kapal seperti dayung, layer, mesin diesel kapal, mesin uap bahkan tenaga nuklir di gunakan. Penggunaan motor diesel menempati urutan pertama untuk kapal komersial selanjutnya pemakaian mesin uap lebih diutamakan untuk kapal – kapal berukuran sangat besar seperti Super Tanker.

Pemakaian mesin diesel pada kapal lebih disenangi karena lebih praktis dalam pengopersiannya, persiapan untuk menghidupkan sebuah mesin induk hanya diperlukan lebih kurang satu jam, sedangkan untuk mesin uap diperlkan waktu tidak kurang dari empat jam.

Sebuah kapal dengan tenaga penggerak mesin diesel, biasanya mencantumkan KM (kapal motor), MS (motor ship), MV (motor Vessel) sebelum nama kapalnya, Sedangkan kapal dengan tenaga penggerak mesin uap mencantumkan KU (kapal uap), SS (steam ship) sebelum menunjukan nama kapal tersebut.
Untuk jenis mesin – 2 yang terdapat disebuah kapal dibagi atas 3 kelompok yaitu :

1. Motor Induk / Main Engine.

Mesin kapal yang berfungsi sebagai tenaga penggerak kapal, nantinya mesin ini bertugas untuk menggerakan propeller / baling – baling kapal yang selanjutnya mendorong air dan menggerakan kapal maju atau mundur.
Kapal dengan satu propeller hanya mempunyai satu mesin induk sedangkan kapal yang mempunyai dua propeller atau twin screw digerakan oleh dua mesin induk.

2. Diesel Generator  atau D/G.

Nama lainnya Mesin Diesel / Motor Bantu / Generator adalah mesin yang berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik. Ukuran motor bantu lebih kecil dari motor induk. Dalam sebuah kapal terdapat lebih dari satu motor bantu yang masing – masing berfungsi menggerakan generator. Generator akan menghasilkan listrik, nantinya digunakan untuk penerangan dan power supply bagi pesawat – pesawat bantu lainnya. Apabila kapal sandar didermaga maka mesin diesel kapal dapat juga digunakan untuk mengerakan mesin bagi Derek / alat bongkar muat.

3. Pesawat Bantu/alat bantu kapal.

Pesawat Bantu/alat bantu kapal Adalah jenis mesin – mesin diatas kapal yang berfungsi sebagai sarana penunjang pokok dalam pengoperasian kapal. Secara standar / biasa untuk sebuah kapal akan ditemukan jenis – jenis pesawat Bantu yaitu :
Kompresor Udara / Air Compressor Fungsinya untuk menghidupkan motor diesel / mesin Bantu karena pada umumnya mesin tersebut hanya dapat dihidupkan dengan menggunakan tenaga / tekanan udara.
Pompa air pendingin / Cooling water pump Terdapat 2 jenis yaitu, pompa air tawar pendingin (tertutup) adalah pompa yang mensirkulasikan air tawar pendingin dari motor ke cooler untuk selanjutnya kembali ke motor, sedangkan pompa air laut pendingin (terbuka) adalah pompa yang memasukan air laut ke dalam cooler yang selanjutnya mengalir kembali ke laut.
pompa ballast kapal/ Ballast pump yaitu Pompa air laut yang digunakan untuk memompa air laut ke dalam / ke laur tangki – tangki ballast kapal.
Pompa Sanitary / Sanitair pump yaitu Pompa air laut / tawar untuk mencukupi kebutuhan air tawar bagi air pendingin mesin – mesin kapal, serta kebutuhan lainnya seperti dapur, kamar mandi, WC dsb.
Pompa Got / Bilge pump yaitu Untuk menampung air kondesat / air got yang kemudian di buang keluar kapal.
Pompa Dinas Umum yaitu Pompa yang digunakan untuk menggantikan fungsi pompa air laut pendingin, pompa ballast atau pompa got.
Pompa Transfer bahan bakar kapal digunakan untuk memindahkan bahan bakar dari tangki ke tangki lainnya dan untuk persiapan bunker dan untuk pengaturan stabilitas kapal.
Separator Ada 2 jenis yaitu, purifier untuk memisahkan air dengan minyak dan clearifier untuk memisahkan benda lainnya yang terbawa dalam minyak.
Ketel Bantu / DonkeyBoiler Digunakan untuk menghasilkan uap air untuk memanaskan bahan bakar sebelum masuk kedalam motor diesel. Uap tersebut dapat dipergunakan untuk memasak, pemanas air mandi dan pemanas untuk air condition.
Mesin Kemudi Untuk menggerakan daun kemudi ke kiri / kanan atau untuk mempertahankannya pada posisi yang diinginkan.
Mesin Jangkar atau Winch / Derek jangkar digunakan untuk menaikan / heave up jangkar kapal sewaktu kapal akan berlayar.
Winch / Derek untuk alat B/M Berfungsi untuk alat bongkar muat kapal sewaktu kapal sandar di dermaga.


 Prinsip kerja mesin penggerak utama kapal


1. Radial Engines
Mesin radial adalah susunan mesin pembakaran dalam, dimana silinder diatur mengelilingi arah sebuah pusat poros engkol seperti jeruji pada roda. Pembakaran ini secara umum digunakan mesin pesawat sebelum digantikan dengan mesin poros turbo dan turbo jet. Mesin Radial ini digunakan untuk menggerakkan baling-baling pesawat.

2. Mesin Uap
Mesin uap adalah mesin yang menggunakan energi panas dalam uap air dan mengubahnya menjadi energi mekanis. Mesin uap digunakan dalam pompa, lokomotif dan kapal laut, dan sangat penting dalam Revolusi Industri.

3. Mesin Jahit
Mesin jahit adalah peralatan mekanis atau elektromekanis yang berfungsi untuk menjahit.

4. Mekanisme Maltese Cross
Maltese Cross adalah mekanisme yang menerjemahkan sebuah rotasi terus-menerus menjadi gerakan berputar yang berselang. Mekanisme jenis inilah yang menjadi dasar pembuatan mesin jam.

5. Mekanisme Transmisi Manual
Transmisi manual adalah sistem transmisi otomotif yang memerlukan pengemudi sendiri untuk menekan/menarik seperti pada sepeda motor atau menginjak kopling seperti pada mobil dan menukar gigi percepatan secara manual. Gigi percepatan dirangkai di dalam kotak gigi/gerbox untuk beberapa kecepatan, biasanya berkisar antara 3 gigi percepatan maju sampai dengan 6 gigi percepatan maju ditambah dengan 1 gigi mundur (R).

6. Constant Velocity Joint
Constant Velocity Joint memungkinkan poros berputar untuk mengirimkan daya melalui sudut variabel, kecepatan rotasi konstan, tanpa peningkatan berarti dalam gesekan atau bermain. Mekanisme ini biasanya terdapat pada system pergerakan pada roda mobil.

7. Sistem Torpedo Penghancur Pada Kapal
Torpedo adalah proyektil berpenggerak sendiri yang ditembakkan di atas atau di bawah permukaan laut dan kemudian meluncur di bawah permukaan laut dan dirancang untuk meledak pada kontak atau pada jarak tertentu dengan target. Torpedo dapat diluncurkan dari kapal selam, kapal permukaan, helikopter atau pesawat.

8. Rotary Engine
Rotary engine adalah mesin pembakaran dalam yang digerakkan oleh tekanan yang dihasilkan oleh pembakaran dirubah menjadi gerakan berputar pada rotor yang menggerakkan sumbu. Orang lebih mengenal mesin rotor dengan sebutan piston. Karena mesin rotor sangat kompak, ringan, mesin ini banyak digunakan pada berbagai kendaraan dan peralatan seperti pada mobil balap, pesawat terbang, go-kart, speed boat.