Marine Fuel Management – Pengelolaan Bahan Bakar di Kapal, untuk selanjutnya disebut MFM kependekan dari Marine Fuel
Management adalah suatu pendekatan secara bertingkat atau multi-level untuk pengukuran, pemantauan, dan pelaporan penggunaan bahan-bakar di kapal, dengan sasaran pencapaian pengurangan penggunaan bahan-bakar, peningkatan efisiensi operasional, dan perbaikan pengawasan manajemen armada. MFM telah berkembang dan menjadi begitu penting akibat kenaikan biaya bahan-bakar kapal dan meningkatnya tekanan-tekanan dari pemerintah untuk mengurangi pencemaran yang ditimbulkan oleh armada kapal diseluruh dunia.MFM yang efektif mensyaratkan agar Anda memahami:
- Seberapa banyak bahan-bakar yang digunakan
- Bagaimana bahan-bakar digunakan
- Apa saja yang memengaruhi penggunaan bahanbakar
- Dan seberapa besar Cara atau metode pengukuran bahan-bakar secara manual, seperti misalnya pengukuran kedalaman/tinggi permukaan (dipping atau sounding), umumnya tidak mampu memberitahukan seberapa banyak bahan-bakar yang digunakan:
- Untuk kapal yang sedang berlayar terhadap kapal yang sedang berada di pelabuhan atau sedang tidak berlayar
- Untuk suatu mesin tertentu (misalnya mesin induk kiri terhadap mesin induk kanan)
- Kinerja salah satu tugas pekerjaan terhadap tugas pekerjaan lainnya
- Dilakukan oleh kru A terhadap yang dilakukan oleh kru B
Wilayah-wilayah Fungsional Utama dari MFM
- Kinerja Operasional
- Manajemen Perawatan dan Engineering
- Manajemen Pengawasan
Kinerja Operasional
Kinerja operasional meliputi wilayah-wilayah fungsional yang memengaruhi kinerja sesungguhnya dari
suatu kapal atau armada. Kinerja operasional ini juga meliputi
pemantauan, pengawasan jumlah, penghitungan bahan-bakar dan manajemen
pencekikan (throttle) bahan bakar ke mesin.
Pemantauan Bahan-bakar
Banyak kapal-kapal laut yang tidak dilengkapi dengan suatu peralatan agar Nakhoda dan awak kapal
mampu mengukur dan memantau penggunaan bahan-bakar saat kapalnya
berlayar. Suatu sistem yang optimum di kapal harus termasuk kemampuan
untuk setiap saat bisa memantau tingkat penggunaan bahan-bakar yang
dibakar dari anjungan kapal. Termasuk kecepatan (penggunaan) bahan-bakar
yangdibakar di masing-masing mesin-induk atau mesin-mesin bantu,
sekaligus tinggi permukaan bahan bakar dalam tangki-tangki. Pemantauan
yang proaktif ini akan memungkinkan awak kapal untuk membuat
keputusan-keputusan yang secara positif memengaruhi tingkat dan
efisiensi (penggunaan) bahan bakar.
Pengontrolan Jumlah Bahan-bakar yang Tersisa (Inventory)
Tangki-tangki
bahan-bakar perlu dipasangi sensor-sensor yang memantau tinggi
permukaan bahan bakar secara terus menerus karena adanya penerimaan
bahan bakar di kapal dan sebagian dibakar didalam mesin induk dan mesin-mesin bantu. Dengan mempertimbangkan jumlah bahan bakar yang dikonsumsi mesin-mesin modern, pengukuran tinggi permukaan bahan-bakar secara berkala dalam tangki-tangki dengan cara-cara manual/tradisional, sudah tidak teliti dan menyita waktu. Flowmeter-flowmeter harus
dipasang pada saluran-saluran pipa transfer bahan-bakar di
tempat-tempat dimana bahan-bakar diambil atau disalurkan keluar kapal.
Penghitungan Penggunaan Bahan-bakar (Accounting)
Di
sejumlah tempat di dunia, pencurian bahan bakar merupakan kenyataan
yang perlu diperhatikan,.Karena itu akurasi/ketelitian pengukuran bahan
bakar yang diterima serta jumlah bahan-bakar yang betul-betul digunakan
di kapal, merupakan bagian yang penting dalam MFM. Flowmeter-flowmeter harus dipasang pada saluran-saluran pipa transfer bahan bakar sehingga data penggunaan bahan bakar (fueling) bisa dicatat. Data ini selanjutnya bisa dibandingkan dengan dengan jumlah bahan bakar yang dibakar (burn rates) untuk menetapkan apakah ada bahan-bakar yang ditransfer keluar kapal secara sembunyi-sembunyi.
Diluar
pencurian bahan-bakar, banyak ketentuanketentuan hukum dari negara yang
mensyaratkan agar semua insiden tumpahan bahan bakar dari kapal dicatat
dan dilaporkan kepada otoritas-otoritas setempat. Sebagai contoh,
Marine Department dari Pemerintah Hong Kong memiliki panduan-panduan khusus untuk menaggulangi kecelakaan-kecelakaan tumpahan bahan-bakar yang mencerminkan ketentuan-ketentuan internasional yang tercantum dalam MARPOL, Konvensi Internasional untuk Pencegahan Pencemaran dari Kapal-kapal.
Selain itu, penghitungan penggunaan bahan-bakar di beberapa tempat selama suatu pelayaran memberikan kemampuan untuk mengaitkan (pemakaian) bahan-bakar serta biaya-biaya yang bersangkutan dengan tarif-tarif pengapalan atau pengangkutan
peti kemas. Sebagai contoh, pemahaman tentang bagaimana kapal membakar
bahan-bakar pada bagian-bagian tertentu dari suatu pelayaran,
memungkinkan penawaran tarif-tarif sewa peti kemas lebih akurat lagi
sehingga marjin keuntungan masih tetap sehat. Sebagai konsekuensinya, berbagai tarif pengapalan berdasarkan pada tarif-tarif penggunaan bahanbakar yang terdokumentasi bisa memungkinkan suatu perusahaan pengapalan barang (shipper) menawarkan tarif pengapalan lebih murah lagi.
Suatu
sistem manajemen bahan-bakar kapal (MFM) yang moderen, akan membantu
dalam pemantauan penggunaan bahan-bakar, transfer-transfer bahanbakar,
dan kegiatan-kegiatan penerimaan bunker bahan bakar dan bisa diatur
untuk bisa mengaktifkan alarm suara (audible) pada saat akan terjadi tumpahan dari tangki-tangki bahan-bakar yang sedang diisi.
Manajemen Pencekikan (Throttle)
Para operator kapal adalah pihak yang memerlukan tentang pemakaian bahan-bakar dengan cara mencekik (throttle).
Penggunaannya, angin, arus laut, kondisi (kebersihan) lambung kapal
(bawah air), berat muatan, dan kehandalan sistem penggerak kapal
kesemuanya bisa berdampak pada jumlah bahan bakar yang dibakar baik yang
positif maupun yang negatif. Dalam upayanya untuk mengurangi penggunaan
bahan-bakar, sejumlah operator kapal memilih untuk menurunkan RPM dari
mesin induk, yang dengan sendirinya juga menurunkan kecepatan kapal.
Akan tetap, hanya dengan menurunkan RPM/kecepatan kapal belum
mengindikasikan konsumsi bahan-bakar total , sehingga keputusan untukmenurunkan putaran mesin induk tidaklah menjamin terjadinya penghematan-penghematan bahan-bakar. Seseorang harus melakukan penghitungan-penghitungan aliran-kerja (workflow) tentang bagaimana sistem propulsi itu beroperasi berjalan didalam kondisi-kondisi tersedia yang berubah-ubah dan selanjutnya mengaitkannya itu dengan konsumsi bahan-bakar. Hanya dengan menurunkan putaran mesin induk tidak menjamin setting kecepatan kapal yang optimum.
Sejumlah
sistem MFM yang moderen dirancang untuk melakukan
penghitungan-penghitungan selagi kapal sedang berlayar dan membuat
rekomendasi-rekomendasi kepada Nakhoda kapal.
Manajemen Rekayasa (Engineering) dan Perawatan
Sebagaimana
dengan setiap aset modal, pabrik-pabrik biasanya mengikutsertakan
praktek-praktek dan prosedur-prosedur perawatan standar yang diperlukan
untuk mempertahankan agar aset tetap berfungsi dengan benar dan masih
dalam spesifikasi rancangan/desain aslinya. Dalam sejumlah kasus,
perawatan-perawatan rutin yang terjadwal didasarkan pada
parameter-parameter laboratorium dan rancangan aslinya dan tidak selalu
merefleksikan sesuatu yang optimal.
MFM mendukung perawatan yang benar atas mesin-mesin induk dan mesin-mesin bantu di kapal dengan menggunakan jumlah bahan bakar sesungguhnya yang dibakar atau jumlah jam kerjanya sebagai dasar untuk melakukan perawatan-perawatan rutin. Program perawatan berdasarkan kondisi (condition-based)
lebih merefleksikan secara akurat kondisi lingkungan operasi yang
sesungguhnya dari mesin-mesin itu, namun yang lebih penting lagi adalah
mengurangi atau meniadakan kerja perawatan yang memang tidak diperlukan.
Manajemen Pengawasan
Fungsi-fungsi manajemen dalam MFM meliputi:
Analisis kinerja kapal dan kinerja armada secara keseluruhan
Analisis awak kapal dengan penekanan pada penerapan pelajaran-pelajaran yang didapat dari
pengalaman-pengalaman penerapan kerja yang terbaik diseluruh armada
Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicator–KPI) yang dikumpulkan dari seluruh armada meliputi bahan-bakar yang dibakar per mil laut atau ton, setting throttle pada beberapa titik/tempat dalam suatu pelayaran, analisis RPM dan gas buang dari mesin; dan kinerja kapal terhadap kondisi-kondisi (kebersihan) lambung kapal.
Manajemen bahan-bakar dari pembelian sampai transfer ke penggunaan.
Kinerja bahan-bakar kapal yang dicarter dan pemenuhannya pada kewajiban-kewajiban yang tertulis dalam kontrak/perjanjian.




0 komentar:
Posting Komentar
ayoooo !!!!!!
Bergabung