Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Sabtu, 11 Januari 2014

Marine Fuel Management – Pengelolaan Bahan Bakar di Kapal, untuk selanjutnya disebut MFM kependekan dari Marine Fuel

Management adalah suatu pendekatan secara bertingkat atau multi-level untuk pengukuran, pemantauan, dan pelaporan penggunaan bahan-bakar di kapal, dengan sasaran pencapaian pengurangan penggunaan bahan-bakar, peningkatan efisiensi operasional, dan perbaikan pengawasan manajemen armada. MFM telah berkembang dan menjadi begitu penting akibat kenaikan biaya bahan-bakar kapal dan meningkatnya tekanan-tekanan dari pemerintah untuk mengurangi pencemaran yang ditimbulkan oleh armada kapal diseluruh dunia.
MFM yang efektif mensyaratkan agar Anda memahami:
  • Seberapa banyak bahan-bakar yang digunakan
  • Bagaimana bahan-bakar digunakan
  • Apa saja yang memengaruhi penggunaan bahanbakar
  • Dan seberapa besar Cara atau metode pengukuran bahan-bakar secara manual, seperti misalnya pengukuran kedalaman/tinggi permukaan (dipping atau sounding), umumnya tidak mampu memberitahukan seberapa banyak bahan-bakar yang digunakan:
    • Untuk kapal yang sedang berlayar terhadap kapal yang sedang berada di pelabuhan atau sedang tidak berlayar
    • Untuk suatu mesin tertentu (misalnya mesin induk kiri terhadap mesin induk kanan)
    • Kinerja salah satu tugas pekerjaan terhadap tugas pekerjaan lainnya
    • Dilakukan oleh kru A terhadap yang dilakukan oleh kru B
Tanpa pengertian yang jelas bagaimana cara bahanbakar digunakan, tidak ada dasar kerja untuk membandingkan setiap jenis alat atau kegiatan apapun dalam melakukan penghematan bahanbakar. Tanpa dasar kerja, tidak akan ada cara untuk menetapkan apakah kiat-kiat untuk penghematan telah betul-betul bekerja. MFM memungkinkan pemilik/pengelola armada kapal untuk melacak pemakaian/konsumsi bahan bakar dan mengaitkannya dengan kinerja yang dihasilkan oleh kapal itu. MFM mendukung analisis efektivitas dari kiat-kiat operasi dan membantu mengembangkan suatu pemahaman yang lebih jelas tentang seberapa baik/efisien suatu kapal menggunakan bahan-bakarnya.
Wilayah-wilayah Fungsional Utama dari MFM
  • Kinerja Operasional
  • Manajemen Perawatan dan Engineering
  • Manajemen Pengawasan
Kinerja Operasional
Kinerja operasional meliputi wilayah-wilayah fungsional yang memengaruhi kinerja sesungguhnya dari suatu kapal atau armada. Kinerja operasional ini juga meliputi pemantauan, pengawasan jumlah, penghitungan bahan-bakar dan manajemen pencekikan (throttle) bahan bakar ke mesin.
Pemantauan Bahan-bakar
Banyak kapal-kapal laut yang tidak dilengkapi dengan suatu peralatan agar Nakhoda dan awak kapal mampu mengukur dan memantau penggunaan bahan-bakar saat kapalnya berlayar. Suatu sistem yang optimum di kapal harus termasuk kemampuan untuk setiap saat bisa memantau tingkat penggunaan bahan-bakar yang dibakar dari anjungan kapal. Termasuk kecepatan (penggunaan) bahan-bakar yangdibakar di masing-masing mesin-induk atau mesin-mesin bantu, sekaligus tinggi permukaan bahan bakar dalam tangki-tangki. Pemantauan yang proaktif ini akan memungkinkan awak kapal untuk membuat keputusan-keputusan yang secara positif memengaruhi tingkat dan efisiensi (penggunaan) bahan bakar.
Pengontrolan Jumlah Bahan-bakar yang Tersisa (Inventory)
Tangki-tangki bahan-bakar perlu dipasangi sensor-sensor yang memantau tinggi permukaan bahan bakar secara terus menerus karena adanya penerimaan bahan bakar di kapal dan sebagian dibakar didalam mesin induk dan mesin-mesin bantu. Dengan mempertimbangkan jumlah bahan bakar yang dikonsumsi mesin-mesin modern, pengukuran tinggi permukaan bahan-bakar secara berkala dalam tangki-tangki dengan cara-cara manual/tradisional, sudah tidak teliti dan menyita waktu. Flowmeter-flowmeter harus dipasang pada saluran-saluran pipa transfer bahan-bakar di tempat-tempat dimana bahan-bakar diambil atau disalurkan keluar kapal.
 Penghitungan Penggunaan Bahan-bakar (Accounting)
 Di sejumlah tempat di dunia, pencurian bahan bakar merupakan kenyataan yang perlu diperhatikan,.Karena itu akurasi/ketelitian pengukuran bahan bakar yang diterima serta jumlah bahan-bakar yang betul-betul digunakan di kapal, merupakan bagian yang penting dalam MFM. Flowmeter-flowmeter harus dipasang pada saluran-saluran pipa transfer bahan bakar sehingga data penggunaan bahan bakar (fueling) bisa dicatat. Data ini selanjutnya bisa dibandingkan dengan dengan jumlah bahan bakar yang dibakar (burn rates) untuk menetapkan apakah ada bahan-bakar yang ditransfer keluar kapal secara sembunyi-sembunyi.
Diluar pencurian bahan-bakar, banyak ketentuanketentuan hukum dari negara yang mensyaratkan agar semua insiden tumpahan bahan bakar dari kapal dicatat dan dilaporkan kepada otoritas-otoritas setempat. Sebagai contoh, Marine Department dari Pemerintah Hong Kong memiliki panduan-panduan khusus untuk menaggulangi kecelakaan-kecelakaan tumpahan bahan-bakar yang mencerminkan ketentuan-ketentuan internasional yang tercantum dalam MARPOL, Konvensi Internasional untuk Pencegahan Pencemaran dari Kapal-kapal.
Selain itu, penghitungan penggunaan bahan-bakar di beberapa tempat selama suatu pelayaran memberikan kemampuan untuk mengaitkan (pemakaian) bahan-bakar serta biaya-biaya yang bersangkutan dengan tarif-tarif pengapalan atau pengangkutan peti kemas. Sebagai contoh, pemahaman tentang bagaimana kapal membakar bahan-bakar pada bagian-bagian tertentu dari suatu pelayaran, memungkinkan penawaran tarif-tarif sewa peti kemas lebih akurat lagi sehingga marjin keuntungan masih tetap sehat. Sebagai konsekuensinya, berbagai tarif pengapalan berdasarkan pada tarif-tarif penggunaan bahanbakar yang terdokumentasi bisa memungkinkan suatu perusahaan pengapalan barang (shipper) menawarkan tarif pengapalan lebih murah lagi.
Suatu sistem manajemen bahan-bakar kapal (MFM) yang moderen, akan membantu dalam pemantauan penggunaan bahan-bakar, transfer-transfer bahanbakar, dan kegiatan-kegiatan penerimaan bunker bahan bakar dan bisa diatur untuk bisa mengaktifkan alarm suara (audible) pada saat akan terjadi tumpahan dari tangki-tangki bahan-bakar yang sedang diisi.
Manajemen Pencekikan (Throttle)
Para operator kapal adalah pihak yang memerlukan tentang pemakaian bahan-bakar dengan cara mencekik (throttle). Penggunaannya, angin, arus laut, kondisi (kebersihan) lambung kapal (bawah air), berat muatan, dan kehandalan sistem penggerak kapal kesemuanya bisa berdampak pada jumlah bahan bakar yang dibakar baik yang positif maupun yang negatif. Dalam upayanya untuk mengurangi penggunaan bahan-bakar, sejumlah operator kapal memilih untuk menurunkan RPM dari mesin induk, yang dengan sendirinya juga menurunkan kecepatan kapal. Akan tetap, hanya dengan menurunkan RPM/kecepatan kapal belum mengindikasikan konsumsi bahan-bakar total , sehingga keputusan untukmenurunkan putaran mesin induk tidaklah menjamin terjadinya penghematan-penghematan bahan-bakar. Seseorang harus melakukan penghitungan-penghitungan aliran-kerja (workflow) tentang bagaimana sistem propulsi itu beroperasi berjalan didalam kondisi-kondisi tersedia yang berubah-ubah dan selanjutnya mengaitkannya itu dengan konsumsi bahan-bakar. Hanya dengan menurunkan putaran mesin induk tidak menjamin setting kecepatan kapal yang optimum.
Sejumlah sistem MFM yang moderen dirancang untuk melakukan penghitungan-penghitungan selagi kapal sedang berlayar dan membuat rekomendasi-rekomendasi kepada Nakhoda kapal.
Manajemen Rekayasa (Engineering) dan Perawatan
Sebagaimana dengan setiap aset modal, pabrik-pabrik biasanya mengikutsertakan praktek-praktek dan prosedur-prosedur perawatan standar yang diperlukan untuk mempertahankan agar aset tetap berfungsi dengan benar dan masih dalam spesifikasi rancangan/desain aslinya. Dalam sejumlah kasus, perawatan-perawatan rutin yang terjadwal didasarkan pada parameter-parameter laboratorium dan rancangan aslinya dan tidak selalu merefleksikan sesuatu yang optimal.
MFM mendukung perawatan yang benar atas mesin-mesin induk dan mesin-mesin bantu di kapal dengan menggunakan jumlah bahan bakar sesungguhnya yang dibakar atau jumlah jam kerjanya sebagai dasar untuk melakukan perawatan-perawatan rutin. Program perawatan berdasarkan kondisi (condition-based) lebih merefleksikan secara akurat kondisi lingkungan operasi yang sesungguhnya dari mesin-mesin itu, namun yang lebih penting lagi adalah mengurangi atau meniadakan kerja perawatan yang memang tidak diperlukan.
Manajemen Pengawasan
Fungsi-fungsi manajemen dalam MFM meliputi:
Analisis kinerja kapal dan kinerja armada secara keseluruhan
Analisis awak kapal dengan penekanan pada penerapan pelajaran-pelajaran yang didapat dari
pengalaman-pengalaman penerapan kerja yang terbaik diseluruh armada
Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicator–KPI) yang dikumpulkan dari seluruh armada meliputi bahan-bakar yang dibakar per mil laut atau ton, setting throttle pada beberapa titik/tempat dalam suatu pelayaran, analisis RPM dan gas buang dari mesin; dan kinerja kapal terhadap kondisi-kondisi (kebersihan) lambung kapal.
Manajemen bahan-bakar dari pembelian sampai transfer ke penggunaan.
Kinerja bahan-bakar kapal yang dicarter dan pemenuhannya pada kewajiban-kewajiban yang tertulis dalam kontrak/perjanjian.

0 komentar:

Posting Komentar

ayoooo !!!!!!
Bergabung